Category Archives: kematian

Indonesia Perokok Terbesar Ke-3 Dunia

Kebiasaan merokok di Indonesia tercatat 400 ribu orang meninggal per tahun.

VIVAnews – Indonesia masih menempati juara ketiga dunia dalam hal merokok. Ketua Harian Komnas Pengendalian Tembakau Mia Hanafiah mengatakan, posisi Indonesia masih ditingkat teratas karena pertumbuhan konsumsi rokok di kalangan generasi muda Indonesia adalah yang tercepat di dunia.

Seorang perempuan terlihat sedang menghisap sebatang rokok

Seorang perempuan terlihat sedang menghisap sebatang rokok

“Saya melansir dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebut bahwa jumlah perokok di Indonesia adalah yang terbesar ketiga,” kata Mia dalam sambutan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Tugu Proklamasi, Sabtu 21 Agustus 2010.

Mengutip WHO, kata Mia, bahwa akibat kebiasaan merokok di Indonesia tercatat 400 ribu orang meninggal per tahun.

Mia mengatakan, rokok menjadi sangat berbahaya karena rokok adalah produk dari tembakau yang mengandung zat berbahaya dan adiktif, berisi kurang lebih 4000 bahan kimia, dan 69 diantaranya bersifat karsinogenik (memicu kanker). Zat-zat berbahaya itu antara lain seperti tar, karbon monoksida, sianida, arsen, formalin dan nitrosiamin.

Untuk itu dalam acara peringatan HUT RI ke 65 ini, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT) meminta agar pemerintah segera mengatur peredaran dan penggunaan rokok. “Ini mengacu pada UD 1945 pasal 28H ayat I yang menyebut setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. Sehingga paling tidak pemerintah perlu segera mengeluarkan undang-undang atau peraturan untuk mengatur peredaran tembakau ini,” kata dia.

Bahaya Rokok (Gambar)

Seringkali gambar berbicara lebih banyak dari kata-kata. Kali ini, mereka berbicara tentang Rokok. Mari kita dengarkan bersama-sama.

Gambaran apa yang terjadi pada tubuh seorang perokok

lagi….

Zat-zat beracun dalam sebatang rokok

karena itu…..

salam untuk ayah…

Daddy, stop smoking...

dan juga untuk ibu….

Akibat Rokok, Penyakit Jantung Makin Menyerang Orang Muda

TEMPO/Novi Kartika

TEMPO Interaktif,  Penyakit jantung koroner kini menjangkiti pada usia makin muda. Dr Taufik Pohan, SpJP, pernah menangani penderita jantung koroner berusia 26-29 tahun. “Padahal dulu usia sekitar 40 tahunan baru kena,” kata dokter spesialis jantung dari Rumah Sakit Pondok Indah ini.

Dokter spesialis jantung dari RS Jantung Harapan Kita, Jakarta, Dr Aulia Sani, SpJP, bahkan pernah menangani pasien jantung koroner pemuda usia 22 tahun. “Dia merokok sejak usia 9 tahun,” kata Sani. Pembuluh darah koroner pemuda itu terpaksa dipasangi cincin (stent).

Faktor utama penyakit jantung koroner, kata Aulia, memang rokok. Penyakit ini menjadi penyebab kematian nomor wahid. Data WHO menyebutkan, pada 2005 rokok diperkirakan menyebabkan 400 ribu kematian atau 23,7 persen dari 1,7 juta kematian.

Masalahnya, tidak mudah bagi perokok untuk berhenti merokok. Menurut Dr Tribowo T. Ginting, SpKJ, dari RS Persahabatan, 70 persen perokok ingin berhenti. “Tapi hanya 5-10 persen yang bisa berhenti tanpa bantuan,” ujarnya. Mereka yang bisa berhenti biasanya perokok yang belum kecanduan. Dengan susahnya berhenti merokok, jumlah perokok selalu naik.

Di Indonesia, menurut data WHO, tren jumlah konsumsi rokok dan jumlah perokok muda kian besar. Dari 1960 hingga 2004, konsumsi rokok naik 6,2 kali lipat, dari 35 miliar batang menjadi 217 miliar batang per tahun. Jumlah anak yang memulai merokok sebelum umur 19 tahun juga naik 10 persen dari 2001 hingga 2004. Pada 2001-2004, perokok usia 15 tahun ke atas jumlahnya naik 2,9 persen.

Survei Global Tembakau Pemuda-Indonesia pada 2006 menyebutkan, satu dari tiga anak (37,3 persen) pernah merokok. Mereka yang pertama kali merokok sebelum genap 10 tahun sebanyak 30,9 persen. Anak muda yang tetap merokok 12,6 persen dan 3,2 persen di antaranya dilaporkan kecanduan. Jika kecanduan, susah berhenti.

Jumlah perokok pasif juga naik. Aulia Sani memaparkan, dari rokok yang disulut, 20 persen asapnya diisap perokok. Sebanyak 5-10 persen tersangkut di filter rokok. Sisanya beredar di udara. Akibatnya, perokok pasif bisa terserang batuk dan bronkitis. “Begitu tua, perokok pasif bisa kena jantung koroner,” kata Aulia.

Perokok pasif, ujarnya, memiliki risiko terkena kanker paru dan jantung koroner hingga 20-30 persen dibanding yang tak terpapar asap rokok. Ruang khusus merokok, kata dia, tiada guna.

Ini senada dengan hasil pengukuran Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta dengan Swisscontact Foundation Indonesia. Kedua lembaga itu menemukan, nikotin yang banyak beredar di udara berukuran 2,5 mikrometer (PM 2.5) di kawasan dilarang merokok total kurun waktu Agustus-September 2009.

Di sekolah, 32 persen lokasi udaranya terkontaminasi nikotin. Di rumah sakit, ditemukan 68 persen wilayah udara tercemar nikotin. Paling parah adalah di tempat hiburan, di antaranya restoran. Di restoran ditemukan 86 persen lokasi hiburan yang udaranya tercemar nikotin. “Di restoran, kadar PM 2.5 mendekati 2.000 mikrogram/m3,” kata Kepala Bidang Penegakan Hukum BPLHD Ridwan Panjaitan.

Padahal kadar maksimal yang ditoleransi menurut WHO adalah 25 mikrogram/m3. Menurut Direktur Eksekutif Swisscontact Foundation Indonesia Dollaris Riauaty Suhadi, ukuran PM 2.5 merupakan partikel yang sangat kecil dan bisa masuk ke paru-paru. “Tak ada teknologi yang bisa menyaringnya.”

Sementara itu, menurut Aulia Sani, ada dua hal yang bisa dilakukan untuk mengerem laju penyakit jantung koroner usia muda ini. Pertama, mencegah lahirnya perokok baru dan, kedua, menyembuhkan pecandu rokok. Pencegahan perokok dini dilakukan dengan melakukan edukasi terhadap anak yang belum pernah merokok. “Kampanye dilakukan sejak anak-anak masih kecil,” kata dia.

Untuk itu, perlu dilakukan kampanye antitembakau di sekolah-sekolah sejak taman kanak-kanak. Sedangkan bagi yang telanjur merokok dan belum kecanduan, bisa dilakukan terapi perilaku. Yang telanjur kecanduan pun masih bisa diobati, salah satunya dengan obat generik Varenicline Tartrate.

Obat itu menyuplai pengganti nikotin. “Varenicline Tartrate mengganti nikotin tapi tak membuat kecanduan,” kata dia. Menurut Sani, Varenicline Tartrate akan memancing pelepasan dopamine dan endorphin.

Belajar dari Pengalaman Mbah Surip

Mbah Surip dan Rokok

Laporan wartawan KOMPAS Evy Rachmawati

KOMPAS.com — Ibarat mesin mobil, tubuh manusia pun perlu istirahat. Jika terus dipaksa untuk beraktivitas, maka tubuh kita akan mengalami kelelahan. Dampak kelelahan ini adalah gangguan kesehatan secara umum, kambuhnya berbagai penyakit kronis, dan penurunan daya tahan tubuh seseorang. Kelelahan dan stres yang tinggi juga akan sangat mengganggu proses metabolisme dan hormonal dalam tubuh kita.

Kelelahan terjadi karena dipaksanya fisik dan mental kita untuk bekerja secara terus-menerus tanpa istirahat yang cukup. Selain itu, kondisi lingkungan kerja yang tidak sehat, seperti bising, suhu ruangan yang panas, dan asap rokok di dalam ruangan, memperburuk kelelahan yang terjadi itu.

Kondisi ini berakibat serius bagi kesehatan bila diperburuk konsumsi rokok terus-menerus disertai konsumsi kopi berlebihan, suplemen, minuman berenergi mengandung ginseng dan kafein. “Kelelahan berhubungan berbagai gangguan kesehatan, seperti gangguan sistem pencernaan, gangguan sistem jantung dan pembuluh darah, serta penurunan daya tahan tubuh,” kata dr Ari Fahrial Syam dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rabu (5/8) di Jakarta.

“Pengalaman dari artis dan seniman kita, termasuk yang terjadi pada almarhum Mbah Surip, membuktikan, akumulasi antara kelelahan, kurang tidur, banyak mengonsumsi kopi, dan merokok terus-menerus mencetuskan terjadinya gangguan akut pada tubuh, di antaranya serangan jantung yang berakibat fatal,” ujarnya. Berbagai penyakit kronis dapat kambuh jika seseorang mengalami kelelahan, antara lain sakit maag, gangguan kejiwaan, asma, kencing manis, hipertensi, stroke, dan serangan jantung.

Baca lebih lanjut

Kena Asap Rokok Saat Hamil Bikin Bayi Mati Mendadak


London, Ibu yang merokok atau sering terkena paparan asap rokok selama hamil bisa menyebabkan tekanan darah bayinya menjadi abnormal. Tekanan darah abnormal menjadi penyebab kematian bayi mendadak.

Tim peneliti dari Sweden’s Karolinksa Institute menemukan paparan asap rokok selama hamil bisa menyebabkan tekanan darah bayi menjadi abnormal bahkan hingga anak tersebut dewasa nanti.

Tekanan darah yang abnormal membuat jantung harus memompa lebih cepat dan lebih keras. Studi menunjukkan kerusakan pada sirkulasi ini dapat menjadi faktor risiko pada sindrom kematian bayi mendadak (SIDS).

Dr Gary Cohen dan tim menganalisis 36 bayi yang baru lahir, 17 diantaranya lahir dari ibu yang merokok selama hamil. Saat bayi yang sering terpapar asap rokok tersebut diperiksa, menunjukkan adanya ketidaknormalan pada denyut jantung dan tekanan darahnya. Keadaan ini semakin memburuk sepanjang tahun pertama kehidupannya.

“Biasanya ketika seseorang berdiri detak jantung meningkat dan pembuluh darah menegang. Pada bayi dari ibu yang merokok, masalah tersebut terus menerus terjadi mulai dari lahir hingga 1 tahun pertama dan menjadi semakin buruk dari waktu ke waktu,” ujar Dr Cohen, seperti dikutip dari BBCNews, Rabu (27/1/2010).

Dr Cohen menambahkan selama beberapa waktu orang sudah mengetahui adanya pengaruh kardiovaskular pada kasus kematian bayi mendadak. Dan ini kemungkinan bisa menjelaskan mengapa hal tersebut bisa terjadi. Terpapar asap rokok sejak awal kehidupan membuat mekanisme kontrol tekanan darahnya terganggu.

“Pengaruhnya bukan hanya pada pernapasan bayi tapi juga kontrol dari tekanan darah dan denyut jantungnya,” ujar Dr Cohen.

“Hasil penelitian ini sangat masuk akal. Kematian bayi mendadak bisa dihindari dengan tidak membiarkan ada asap rokok di dalam ruangan yang sama dengan bayi. Selain itu sepertiga kematian bayi mendadak bisa dihindari jika ibunya tidak merokok selama hamil,” ujar Prof George Haycock, penasehat dari Foundation for the Study of Infant Deaths (FSID). (Detik.com).

Asap Rokok Lebih Berbahaya dari Polusi Udara

Semakin dini orang mulai merokok, maka semakin cepat orang tersebut terkena kanker paru-paru. Sebab, hasil penelitian menunjukkan, asap rokok jauh lebih berbahaya dibandingkan polusi udara.

Demikian pendapat Prof dr Anwar Jusuf, Guru Besar Tetap FKUI yang dikukuhkan beberapa waktu lalu oleh Rektor Universitas Indonesia (UI) Usman Chatib Warsa.

”Asap rokok mengandung zat kimia yang sebagian bersifat karsinogen. Kemampuan zat ini memicu sel-sel normal menjadi ganas. Proses perangsangan itu terjadi bertahun-tahun,” kata Anwar kepada wartawan.

Kendatipun ada faktor lain penyebab terjadinya kanker paru-paru, jelas spesialis paru itu, namun merokok merupakan faktor utama penyebab keganasan. Pencemaran udara oleh kegiatan industri, menurut Anwar, bisa menambah risiko terjadinya kanker paru-paru.

Beberapa zat kimia yang terkait dengan industri, seperti asbestos, arsen, krom, nikel, besi, asap arang batu, uap minyak dan uranium merupakan contoh zat-zat yang meninggikan risiko tersebut. Namun, risiko yang ditimbulkan oleh pencemaran udara jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang ditimbulkan akibat rokok sigaret.

Anwar menjelaskan, proses terjadinya kanker paru-paru membutuhkan waktu 10-20 tahun. Biasanya gejala kanker paru-paru diawali umur 40 tahun dan puncaknya pada usia 60 tahun. ”Apabila semakin dini orang merokok dan terus berkelanjutan, risikonya semakin besar. Apabila orang merokok pada usia 10 tahun lebih tua, risikonya setengah dari orang yang merokok pada usia lebih muda.” Ia mengutip hasil penelitian dr Edy Suryanto yang mengatakan, semakin banyak orang mengonsumsi rokok setiap harinya, akan semakin besar terjadinya kanker paru-paru.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, sekitar 50% penderita kanker paru tidak mengetahui bahwa asap rokok merupakan penyebab penyakitnya. Hal itu disebabkan kurangnya informasi yang diterima masyarakat. Dari hasil penelitian disebutkan hanya 44% penderita kanker paru-paru mendengar bahaya asap rokok dari surat kabar, radio, majalah, televisi, atau petugas kesehatan. Sekitar 0,9% penderita mendapatkan informasi dari sekolah.

Anwar bersama beberapa dokter paru dari RS Persahabatan pernah melakukan penelitian pada anak-anak kelas V dan VI SD di Jakarta Timur. ”Dari 12% anak-anak SD yang sudah diteliti pernah merasakan merokok dengan coba-coba. Kurang lebih setengahnya meneruskan kebiasaan merokok ini.” Prof Anwar memaparkan masalah pendidikan berpengaruh pada kebiasaan merokok. ”Penelitian kami menyimpulkan anak yang tinggal di daerah kumuh, merokok dipengaruhi orang tuanya. Sedangkan pada kelompok yang mapan, kebiasaan merokok pada anak dipengaruhi oleh teman-teman dekat atau saudaranya.” Oleh sebab itu, edukasi bagi masyarakat tentang bahaya merokok sangat penting dilakukan terus-menerus.

”Saya sangat setuju apabila anak membeli rokok harus dengan KTP tetapi mana ada pedagang rokok yang mau peduli. (Nda/V-1 – mediaindo.co.id)

Rokok, Pedang Bermata Dua: Kesehatan vs Uang

(inilah.com/Bayu Suta)

Rokok bagai pedang bermata dua. Dia dibutuhkan karena cukainya memberi pemasukan sangat besar bagi negara. Di sisi lain, kerugiannya dari aspek kesehatan, lebih besar dibanding pajak yang dihasilkan.

Dari sekitar 1,2 miliar perokok aktif di dunia, 800 juta di antaranya berada di negara sedang berkembang yang total penduduknya saat ini berkisar 1,3 miliar jiwa. Benua Asia, termasuk Indonesia, adalah pasar yang potensial bagi perkembangan industri rokok.

Dari rentang usia manapun, sebagian besar perokok di Indonesia termasuk kelompok miskin, yaitu 70% dari total penduduk atau sekitar 141 juta jiwa. Ini berarti 11% belanja orang miskin untuk beli rokok.

Bahkan, dua pertiga penerima bantuan langsung tunai (BLT) membeli sebatang rokok tiap hari. Jika dikalkulasi, angka belanja rokok masyarakat Indonesia tahun 1990 saja mencapai Rp100 triliun.

Sedangkan kerugian masyarakat akibat merokok yang tercatat tahun 1990 adalah sekitar Rp14,5 triliun. Angka ini belum termasuk kerugian pemerintah atas pemakaian fasilitas pengobatan dan pelayanan kesehatan oleh perokok aktif yang menderita sakit akibat komplikasi merokok. Sangat kontras jika dibanding pendapatan pemerintah dari cukai rokok di tahun yang sama sebesar Rp2,6 triliun rupiah.

Kerugian yang diakibatkan rokok selalu lebih besar dibandingkan jumlah keuntungan yang diperoleh, meskipun tingkat pendapatan dari cukai rokok terus ditingkatkan. Dari sisi pendapatan negara, cukai rokok memang mendominasi dengan angka 98%. Departemen Keuangan mencatat, kontribusi cukai rokok terhadap penerimaan dalam negeri mencapai 4-5 %.

Tahun 2005, angkanya mencapai Rp32 triliun. Setahun kemudian meningkat menjadi Rp37,062 triliun atau 5,81% dari total penerimaan dalam negeri yang Rp637,9 triliun. Sedangkan tahun 2007 sumbangan cukai rokok mencapai 5,94% atau Rp43 triliun dan dalam APBN 2008 ditargetkan pemasukan dari cukai rokok sebesar Rp44 triliun atau 5,63% dari total target penerimaan dalam negeri yang Rp 781,354 triliun.

Namun, di bidang kesehatan sendiri, tahun 1950 jumlah kematian akibat kebiasaan merokok di seluruh dunia mencapai 300.000 per tahunnya. Satu setengah dekade berikutnya, angka ini melonjak lebih dari tiga kali lipat atau berkisar 1 juta. Meningkat lagi menjadi 1,5 juta di tahun 1975 dan 3 juta kematian pada tahun 1990-an.

Dari 3 juta kematian ini, 2 juta terjadi di negara-negara maju dan sisanya di negara-negara berkembang. Pola progresivitas tersebut menyiratkan akan terjadi kematian akibat merokok yang lebih besar lagi yaitu sekitar 4,1 juta jiwa tahun ini.

Di sisi lain, pemerintah selalu mengatakan belum mampu memenuhi anggaran kesehatan yang diwajibkan UU sebesar 15% dari APBN. Tahun 2006 anggaran kesehatan berjumlah Rp13,6 triliun rupiah, atau hanya 6,7% dari APBN. Anggaran untuk kesehatan orang miskin juga tidak kalah pelitnya, sama miskinnya bahkan dengan yang ditanggung. Pada tahun 2008 jumlah anggaran untuk orang miskin berjumlah kurang lebih Rp2,8 triliun, turun dibanding tahun 2007 yang Rp3 triliun lebih.

Padahal, melihat cukai rokok, pemerintah bisa mengalokasikan dana dari pendapatan cukai rokok untuk asuransi kesehatan. Dana untuk menanggung asuransi kesehatan 220 juta penduduk Indonesia adalah Rp14 triliun. Kekurangannya bisa mengambil dana dari pajak rokok.

Kompleksitas masalah merokok dewasa ini, diperparah minimnya keterlibatan pemerintah dalam menanggulangi masalah rokok. Aturan-aturan yang berkaitan dengan masalah rokok masih sangat sedikit dan tidak menunjukkan komitmen perbaikan kehidupan rakyat. Meski Peraturan Pemerintah No 81/1999 yang telah diperbaharui dengan PP No 38/2000 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan, sudah diberlakukan, tetapi law enforcement-nya belum ada.

Terkait usulan RUU Pengendalian Dampak Tembakau, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengatakan, pemerintah bisa digugat karena melakukan perbuatan melawan hukum seperti yang tertera dalam Pasal 1365 jo 1366 KUH Perdata.

“Sejak diusulkan dua tahun lalu, ada 256 anggota DPR atau 41,7% dari total anggota yang menandatangani usulan pembuatan UU Pengendalian Dampak Tembakau. Jadi, sangat disesalkan jika DPR belum menjadikannya sebagai UU,” kata Tulus Abadi.

Kerangka kerja konvensi tentang pengendalian tembakau (framework convention of tobacco control, FCTC) telah diratifikasi negara-negara di Asia Tenggara, kecuali Indonesia.

Hanya 5,2% penduduk dunia yang tidak terlindungi FCTC, dan Indonesia menyumbang 70 % dari total populasi yang tidak terlindungi itu,” ujarnya.

Sekretaris Eksekutif Yayasan Jantung Indonesia, Masino, mengatakan pemerintah harus membuat undang-undang untuk menertibkan iklan rokok. Pasalnya, iklan rokok di Indonesia dapat ditemui di sembarang tempat dan tidak tertata.

“Meski sudah diatur, masih sering terlihat tayangan iklan rokok pada jam dan tempat yang tidak semestinya,” paparnya. [INILAH.com]

Terbiasa Kena Paparan Asap Rokok Anak Berisiko Emfisema

Anak-anak yang secara rutin terpapar asap tembakau di rumah sejak kecil, berisiko memiliki penyakit emfisema saat dewasa.

Penelitian di Columbia University’s Mailman School of Public Health di New York, Amerika Serikat, mengungkapkan fakta bahwa anak-anak yang terbiasa terkena paparan asap rokok di rumah, akan berisiko terkena penyakit emfisema.

Emphysema (emfisema) adalah penyakit paru kronis yang dicirikan oleh kerusakan pada jaringan paru, sehingga paru kehilangan keelastisitasannya.

Paparan asap rokok ini tidak sepenuhnya hilang dari paru-paru anak. Ketika, dewasa, paparan asap rokok ini merupakan cikal bakal penyakit emfisema.

Menurut Gina Lovasi, asisten profesor epidemiologi di Columbia’s Mailman School of Public Health, sekitar setengah dari para peserta yang jadi obyek penelitian yang berasal dari multietnis besar memiliki kebiasaan setidaknya ada satu perokok rokok di rumah mereka ketika kecil.

Para peneliti mempelajari computed tomography scan pada 1.781 non-perokok tanpa catatan klinis menderita penyakit kardiovaskuler. Para peserta ini direkrut dari enam komunitas di Amerika Serikat.

“Kami dapat mendeteksi perbedaan pada CT scan paru-paru antara peserta yang tinggal dengan seorang perokok ketika anak-anak dan mereka yang tidak tinggal dengan perokok pada waktu masa anak-anak,” jelas Lovasi seperti dilansir dari UPI.

Dalam pernyataannya, Lovasi mengatakan, “Beberapa dikenal memiliki efek berbahaya pada jangka pendek, dan penelitian baru ini juga sekaligus menunjukkan bahwa efek dari paparan asap tembakau pada paru-paru juga dapat bertahan selama beberapa dekade.”

Penelitian yang diterbitkan American Journal of Epidemiology juga mengatakan paparan asap rokok pada masa kanak-kanak lebih memiliki efek pengaruh kuat ketimbang ibu yang sedang hamil dan terpapar asap rokok. [INILAH.com]

Rokok Membunuh Lima Juta Orang Tiap Tahun

Anak-anak yang tinggal serumah dengan perokok juga ikut terancam kesehatannya.
Unjuk rasa tolak rokok (ANTARA/Rosa Panggabean)

Tembakau atau rokok membunuh separuh dari masa hidup perokok dan separuh perokok mati pada usia 35 – 69 tahun. Data epidemi tembakau di dunia menjunjukkan tembakau membunuh lebih dari lima juta orang setiap tahunnya. Jika hal ini berlanjut terus, pada 2020 diperkirakan terjadi sepuluh juta kematian dengan 70 persen terjadi di negara sedang berkembang.

Menteri Kesehatan Endang R. Sedyaningsih mengatakan tingginya populasi dan konsumsi rokok menempatkan Indonesia menduduki urutan ke-5 konsumsi tembakau tertinggi di dunia setelah China, Amerika Serikat, Rusia dan Jepang dengan perkiraan konsumsi 220 milyar batang pada 2005.

Padahal rokok atau tembakau dapat mengakibatkan berbagai penyakit tidak menular seperti jantung dan gangguan pembuluh darah, stroke, kanker paru, dan kanker mulut. Di samping itu, rokok juga mengakibatkan penurunan kesuburan, peningkatan insidens hamil diluar kandungan, pertumbuhan janin (fisik dan IQ) yang melambat, kejang pada kehamilan, gangguan imunitas bayi dan peningkatan kematian perinatal.

Rokok mengandung lebih dari empat ribu bahan kimia, termasuk 43 bahan penyebab kanker yang telah diketahui, sehingga lingkungan yang terpapar dengan asap tembakau juga dapat mengakibatkan bahaya kesehatan yang serius, kata Endang yang dikutip dari situs Departemen Kesehatan.

Di masa mendatang masalah kesehatan akibat rokok di Indonesia semakin berat karena 2 di antara 3 orang laki-laki adalah perokok aktif. Lebih bahaya lagi karena 85,4 persen perokok aktif merokok dalam rumah bersama anggota keluarga sehingga mengancam keselamatan kesehatan lingkungan. Selain itu, 50 persen orang Indonesia kurang aktivitas fisik dan 4,6 persen mengkonsumsi alkohol, kata Endang.

Lebih 43 juta anak Indonesia serumah dengan perokok dan terpapar asap tembakau. Padahal anak-anak yang terpapar asap tembakau dapat mengalami pertumbuhan paru yang lambat, lebih mudah terkena bronkitis dan infeksi saluran pernapasan dan telinga serta asma.

”Kesehatan yang buruk di usia dini menyebabkan kesehatan yang buruk di saat dewasa,” katanya.

Dengan mengutip data The Global Youth Survey Tahun 2006, Endang  menambahkan 6 dari 10 pelajar (64,2 persen) yang disurvei terpapar asap rokok selama mereka di rumah. Lebih dari sepertiga (37,3 persen) merokok, bahkan 3 di antara 10 pelajar atau 30,9 persen pertama kali merokok pada umur di bawah 10 tahun.

Menurut Menteri Kesehatan meningkatnya jumlah perokok di kalangan anak-anak dan kaum muda Indonesia karena dipengaruhi iklan rokok, promosi dan sponsor rokok yang sangat gencar.

Konsumsi rokok menimbulkan kerugian langsung bagi perokok dan keluarganya, terlebih bagi keluarga miskin. Rata-rata pengeluaran keluarga miskin untuk konsumsi rokok cukup besar. Alih-alih untuk perbaikan gizi keluarga dan pendidikan anak, justru pendapatan yang terbatas dibelanjakan untuk rokok, ujar Endang.

Padahal dengan mengurangi konsumsi rokok di kalangan keluarga miskin, maka subsidi pemerintah untuk pelayanan kesehatan yang menderita penyakit-penyakit akibat rokok dapat dikurangi, kata Endang.

Selanjutnya Endang mengajak dan menghimbau seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama melindungi generasi muda dari bahaya asap rokok.

”Marilah menciptakan lingkungan yang bersih dan bebas asap rokok, sehingga generasi muda kita dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang utuh, berkualitas dan siap membangun negara  Indonesia,” katanya.

Dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, secara jelas menyatakan pengamanan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif (yang meliputi tembakau dan produk yang mengandung tembakau) harus memenuhi standar dan atau persyaratan yang ditetapkan. Selain itu, setiap orang yang memproduksi dan atau memasukkan rokok ke wilayah Indonesia wajib mencantumkan peringatan kesehatan. Dalam UU itu juga mengatur tentang Kawasan Tanpa Rokok guna melindungi masyarakat dari bahaya asap rokok (VIVAnews).

Belanja Rokok, Alkohol Masyarakat Bogor Lampaui Kesehatan, Pendidikan

Belanja Rokok, Alkohol Masyarakat Bogor Lampaui Kesehatan,  Pendidikan

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor dr Triwandha Elan menyatakan keprihatinannya bahwa biaya belanja untuk kebutuhan rokok masyarakat daerah itu justru lebih tinggi ketimbang untuk kesehatan dan pendidikan.

“Berdasarkan data Susenas (Survei Sensus Nasional), belanja rokok dan alkohol di Kota Bogor melebihi belanja untuk kesehatan dan pendidikan,” katanya di Bogor, Minggu.

Dikemukakannya bahwa untuk belanja rokok/alkohol mencapai 6,9 persen, sedangkan belanja untuk pendidikan 6,4 persen dan kesehatan hanya 2 persen.

“Sementara pengeluaran belanja rokok KK (kepala keluarga) miskin dari jumlah 41.349 KK miskin per tahunnya lebih dari Rp20 miliar,” katanya.

Ia juga menyodorkan data lain, yakni berdasarkan hasil riset kesehatan dasar Kota Bogor tahun 2007, jumlah perokok di Kota Bogor mencapai 29,6 persen dengan rata-rata jumlah batang rokok yang dihisap per hari 8,89 persen.

Sedangkan berdasarkan hasil Surkesda (Survei Kesehatan Daerah) tahun 2004, dari hasil Surkesda disebutkan bahwa jumlah perokok laki-laki di rumah tangga mencapai 57 persen, sedangkan perokok wanita 47 persen di rumah tangga di Kota Bogor.

Populasi jumlah penduduk di Kota Bogor berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sebanyak 905.132 jiwa atau hampir 1 juta jiwa.

Guna menekan turunnya jumlah perokok, katanya, sejauh ini Kota Bogor telah memiliki peraturan daerah (Perda) Nomor 8 tahun 2006 tentang ketertiban umum pasal 14,15, dan pasal 16 yang mengatur KTR (kawasan tanpa rokok).

Dalam perda ini antara lain mengatur tentang pelarangan merokok di lingkungan lembaga pendidikan, kesehatan, tempat-tempat umum, tempat ibadah, arena bermain anak, tempat kegiatan belajar mengajar dan tempat kerja dan pelarangan merokok di dalam angkutan kota.

“Rencananya tahun ini Perda KTR akan dibuat khusus, yang tidak lagi digabungkan dengan Perda ketertiban umum,” katanya.

Sementara itu, cendekiawan muda Nahdlatul Ulama (NU) Bogor Ahmad Fahir, MSi berpendapat bahwa deklarasi KTR di Kota Bogor yang telah dicanangkan unsur masyarakat dan pemerintah kota (Pemkot) Bogor akhir Mei 2009 hendaknya jangan berhenti pada kegiatan seremonial deklarasi formal saja.

“Pola deklarasi-deklarasi mengenai apapun yang bertujuan baik, seringkali kemudian berhenti pada sebatas deklarasi itu sendiri.

Nah…apakah deklarasi KTR di Kota Bogor bisa menjadi aksi berkesinambungan, itulah tantangan dan ujiannya agar tidak seperti kebiasaan deklarasi yang ada,” katanya.

Deklarasi KTR telah dilakukan oleh ratusan unsur masyarakat dan kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan deklarasi yang dilakukan Wakil Wali Kota Bogor Achmad Ru`yat, Wakil Ketua DPRD Iwan Suryawan, dan Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bogor Hj Fauziah Diani Budiarto.

Mereka membubuhkan tanda tangan pada papan berukuran 1 x 1 meter persegi. Dalam deklarasi antara lain disebutkan bahwa perwakilan masyarakat bertekad untuk menegakkan kawasan tanpa rokok di Kota Bogor.

Menurut Ahmad Fahir, mengapa komitmen deklarasi KTR itu perlu “dikawal” agar tidak terjebak pada pola deklarasi yang ada, karena berdasarkan temuan inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan seksi promosi kesehatan Dinkes Kota Bogor, ternyata penerapan KTR seperti yang diatur dalam peraturan daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2006 tentang ketertiban umum di lingkup kantor pemerintah saja masih ditemukan pelanggaran.

Ia merujuk pada Sidak yang dilakukan Kepala Seksi Promosi Dinkes Kota Bogor drg Yunita bersama empat anggota tim, ke kantor Kecamatan Bogor Timur, ditemukan beberapa pegawai kecamatan yang sedang merokok di ruang kerjanya.

“Itu sebabnya bahwa tantangan ke depan, terlebih setelah ada deklarasi membutuhkan komitmen sungguh-sungguh,” kata pria yang baru menyelesaikan studi strata 2 (S2) Komunikasi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) itu.

Wakil Wali Kota Bogor Achmad Ru`yat sendiri sepakat bahwa dideklarasikannya KTR yang dilakukan berbagai unsur masyarakat itu tidak hanya sebatas deklarasi, tapi bisa diwujudkan di lingkungan masyarakat di seluruh wilayah Kota Bogor (ANTARA News).