Category Archives: himbauan rokok

Titus Bonai Tolak Bintangi Iklan Rokok Meski Dibayar Rp 10 M

img
Titus Bonai (Foto: Uyung-detikHealth)

Jakarta, Bintang sepakbola Indonesia yang tengah naik daun, Titus Bonai sangat anti terhadap rokok. Bukan cuma tidak doyan merokok, ia juga tak mau membintangi iklan rokok meski dibayar Rp 10 miliar.

“Puji Tuhan, akan saya tolak,” kata Tibo, panggilan akrabnya saat ditanyai apakah tetap menolak jika bayaran sebagai bintang iklan rokok mencapai Rp 10 miliar, dalam jumpa pers di Yayasan Jantung Indonesia, Cikini, Jakarta, Kamis (24/11/2011).

Tibo, bintang sepakbola kelahiran Papua 4 Maret 1989 ini mengaku memang berasal dari keluarga yang bebas rokok. Orangtuanya sejak dulu memang tidak merokok, sehingga ia merasa malu kalau dirinya sampai kecanduan rokok.

Sama seperti Tibo, bintang sepakbola Indonesia lainnya yakni Octovianus Maniani alias Octo juga sangat antirokok. Meski ornagtuanya sendiri adalah perokok, ia merasa tidak perlu ikut-ikutan karena tahu bahwa asapnya tidak baik untuk fisiknya sebagai atlet profesional.

“Bagi seorang atlet, air lebih penting untuk tubuh kita. Kalau rokok malah merusak. Jadi sama seperti Tibo, saya juga tidak merokok. Kalau iklan rokok, berapapun (honornya) akan saya tolak,” kata Octo.

Sementara itu, pengamat sosial Imam Prasodjo juga sependapat dengan kedua atlet muda berbakat yang sednag naik daun di Indonesia tersebut. Menurutnya, efek rokok sangat merusak generasi muda dan bahkan jauh lebih berbahaya dibandingkan serangan teroris.

“Teroris hanya membunuh 1 dari 5 juta orang. Bunuh diri hanya menyumbang 1 kematian di antara 10 ribu orang. Kematian yang terkait dengan sepakbola, hanya 1 dari 25 ribu orang. Tapi rokok, bisa membunuh 1 dari 200 orang,” tegas Imam.

Mengenai sponsor rokok dalam event olahraga, sesepuh persepakbolaan Indonesia Arifin Panigoro mengaku optimistis pembinaan olahraga di Indonesia tetap bisa berjalan tanpa sponsor rokok. Menurutnya, perusahaan selain rokok juga banyak yang berminat menyeponsori.

“Bahkan selama ini banyak sponsor yang ingin masuk, tapi justru tidak jadi karena tidak mau disandingkan dengan iklan rokok,” kata Arifin tanpa menyebutkan dengan lebih detail jenis sponsor yang dimaksud.
(up/ir)

Iklan

Waspadai Propaganda Industri Rokok

AP – Contoh grafis yang akan dipakai dalam kemasan rokok yang beredar di AS.
JAKARTA, KOMPAS.com – Sosiolog Imam Prasodjo mengatakan, bahaya yang diakibatkan zat di dalam rokok telah dipropagandakan menjadi positif oleh industri rokok.

“Saat ini yang perlu kita lakukan adalah membatasi peredaran dan melarang melalui iklan rokok,” kata Imam usai acara peluncuran Kawasan Bebas Rokok di Lingkungan Instansi Muhammadiyah di Gedung Pengurus Pusat Muhammadiyah, Jakarta, Senin (14/11/2011) kemarin.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO), Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia-Pasifik yang belum menandatangani Konvensi Kerangka Kerja Mengenai Kontrol Tembakau (FCTC).

Menurut Imam, sikap Indonesia tersebut mencerminkan ketidakseriusan pemerintah dalam melindungi rakyatnya. Padahal, di dalam kesepakatan FCTC terdapat aturan-aturan mengenai promosi dansponsorship rokok, lingkungan bebas asap rokok, perokok pasif, dan industri tembakau.

Beberapa di antara peraturan FCTC menyebutkan negara berkewajiban melindungi warga negaranya dari bahaya rokok.

“Indonesia memiliki undang-undang dasar yang menyebutkan akan melindungi seluruh tumpah darahnya, tapi tidak mau melindungi dari bahaya rokok,” ujarnya.

Imam menggarisbawahi pelarangan iklan dan pembatasan distribusi tersebut bukan untuk mematikan industri rokok, namun melindungi warga negara yang belum cukup umur dan yang tidak mau merokok. “Industri rokok jangan khawatir, mereka akan tetap untung,” katanya.

“Masalahnya ada pada iklan-iklan rokok di Indonesia mencitrakan rokok sebagai sesuatu yang positif, pria punya selera, selera Indonesia, dan sebagainya. Citra tersebut rayuan yang sangat sukar ditolak,” katanya.

Karena itu, Imam berpendapat, “Tidak ada cara lain, iklan rokok harus `di-banned`(dilarang).”

Soal pembatasan distribusi, Imam mengatakan produk rokok tidak boleh dijual eceran dan hanya boleh dijual kepada orang dewasa menurut undang-undang, dan menyertakan label peringatan dalam bentuk gambar (graphic warning).

FCTC mensyaratkan graphic warning meliputi 50 persen dari ukuran bungkus rokok dan 174 negara telah menandatangani kesepakatan itu, termasuk Negeri Jiran Malaysia.

“Sedangkan industri rokok di Indonesia masih menawar 30 persen atau tidak sama sekali,” kata Imam.

Imam menilai, kondisi itu telah menunjukkan pengaruh industri rokok di dalam politik dan pemerintahan, bahkan media di Indonesia. “Karena media cetak maupun elektronik merupakan sarana beriklan yang paling efektif,” katanya.

Pasar baru yang disasar industri rokok kini adalah konsumen perempuan dengan pencitraan tren dan kemasan yang feminin. “Sekarang sudah ada produsen yang mengemas rokok dalam bungkus berbentuk lipstik,” ujar Imam.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, pada 2007 jumlah perokok perempuan hanya berkisar 1-2 persen, sekarang naik menjadi 6 persen dari total perokok di Indonesia.  Imam menilai jika jumlah perempuan perokok semakin bertambah, Indonesia akan mendapati generasi yang tidak sehat sejak di dalam kandungan atau kenaikan angka kematian bayi.

Indonesia Perokok Terbesar Ke-3 Dunia

Kebiasaan merokok di Indonesia tercatat 400 ribu orang meninggal per tahun.

VIVAnews – Indonesia masih menempati juara ketiga dunia dalam hal merokok. Ketua Harian Komnas Pengendalian Tembakau Mia Hanafiah mengatakan, posisi Indonesia masih ditingkat teratas karena pertumbuhan konsumsi rokok di kalangan generasi muda Indonesia adalah yang tercepat di dunia.

Seorang perempuan terlihat sedang menghisap sebatang rokok

Seorang perempuan terlihat sedang menghisap sebatang rokok

“Saya melansir dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebut bahwa jumlah perokok di Indonesia adalah yang terbesar ketiga,” kata Mia dalam sambutan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Tugu Proklamasi, Sabtu 21 Agustus 2010.

Mengutip WHO, kata Mia, bahwa akibat kebiasaan merokok di Indonesia tercatat 400 ribu orang meninggal per tahun.

Mia mengatakan, rokok menjadi sangat berbahaya karena rokok adalah produk dari tembakau yang mengandung zat berbahaya dan adiktif, berisi kurang lebih 4000 bahan kimia, dan 69 diantaranya bersifat karsinogenik (memicu kanker). Zat-zat berbahaya itu antara lain seperti tar, karbon monoksida, sianida, arsen, formalin dan nitrosiamin.

Untuk itu dalam acara peringatan HUT RI ke 65 ini, Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT) meminta agar pemerintah segera mengatur peredaran dan penggunaan rokok. “Ini mengacu pada UD 1945 pasal 28H ayat I yang menyebut setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. Sehingga paling tidak pemerintah perlu segera mengeluarkan undang-undang atau peraturan untuk mengatur peredaran tembakau ini,” kata dia.

Bahaya Rokok (Gambar)

Seringkali gambar berbicara lebih banyak dari kata-kata. Kali ini, mereka berbicara tentang Rokok. Mari kita dengarkan bersama-sama.

Gambaran apa yang terjadi pada tubuh seorang perokok

lagi….

Zat-zat beracun dalam sebatang rokok

karena itu…..

salam untuk ayah…

Daddy, stop smoking...

dan juga untuk ibu….