Monthly Archives: Februari 2010

Kena Asap Rokok Saat Hamil Bikin Bayi Mati Mendadak


London, Ibu yang merokok atau sering terkena paparan asap rokok selama hamil bisa menyebabkan tekanan darah bayinya menjadi abnormal. Tekanan darah abnormal menjadi penyebab kematian bayi mendadak.

Tim peneliti dari Sweden’s Karolinksa Institute menemukan paparan asap rokok selama hamil bisa menyebabkan tekanan darah bayi menjadi abnormal bahkan hingga anak tersebut dewasa nanti.

Tekanan darah yang abnormal membuat jantung harus memompa lebih cepat dan lebih keras. Studi menunjukkan kerusakan pada sirkulasi ini dapat menjadi faktor risiko pada sindrom kematian bayi mendadak (SIDS).

Dr Gary Cohen dan tim menganalisis 36 bayi yang baru lahir, 17 diantaranya lahir dari ibu yang merokok selama hamil. Saat bayi yang sering terpapar asap rokok tersebut diperiksa, menunjukkan adanya ketidaknormalan pada denyut jantung dan tekanan darahnya. Keadaan ini semakin memburuk sepanjang tahun pertama kehidupannya.

“Biasanya ketika seseorang berdiri detak jantung meningkat dan pembuluh darah menegang. Pada bayi dari ibu yang merokok, masalah tersebut terus menerus terjadi mulai dari lahir hingga 1 tahun pertama dan menjadi semakin buruk dari waktu ke waktu,” ujar Dr Cohen, seperti dikutip dari BBCNews, Rabu (27/1/2010).

Dr Cohen menambahkan selama beberapa waktu orang sudah mengetahui adanya pengaruh kardiovaskular pada kasus kematian bayi mendadak. Dan ini kemungkinan bisa menjelaskan mengapa hal tersebut bisa terjadi. Terpapar asap rokok sejak awal kehidupan membuat mekanisme kontrol tekanan darahnya terganggu.

“Pengaruhnya bukan hanya pada pernapasan bayi tapi juga kontrol dari tekanan darah dan denyut jantungnya,” ujar Dr Cohen.

“Hasil penelitian ini sangat masuk akal. Kematian bayi mendadak bisa dihindari dengan tidak membiarkan ada asap rokok di dalam ruangan yang sama dengan bayi. Selain itu sepertiga kematian bayi mendadak bisa dihindari jika ibunya tidak merokok selama hamil,” ujar Prof George Haycock, penasehat dari Foundation for the Study of Infant Deaths (FSID). (Detik.com).

Iklan

Asap Rokok Lebih Berbahaya dari Polusi Udara

Semakin dini orang mulai merokok, maka semakin cepat orang tersebut terkena kanker paru-paru. Sebab, hasil penelitian menunjukkan, asap rokok jauh lebih berbahaya dibandingkan polusi udara.

Demikian pendapat Prof dr Anwar Jusuf, Guru Besar Tetap FKUI yang dikukuhkan beberapa waktu lalu oleh Rektor Universitas Indonesia (UI) Usman Chatib Warsa.

”Asap rokok mengandung zat kimia yang sebagian bersifat karsinogen. Kemampuan zat ini memicu sel-sel normal menjadi ganas. Proses perangsangan itu terjadi bertahun-tahun,” kata Anwar kepada wartawan.

Kendatipun ada faktor lain penyebab terjadinya kanker paru-paru, jelas spesialis paru itu, namun merokok merupakan faktor utama penyebab keganasan. Pencemaran udara oleh kegiatan industri, menurut Anwar, bisa menambah risiko terjadinya kanker paru-paru.

Beberapa zat kimia yang terkait dengan industri, seperti asbestos, arsen, krom, nikel, besi, asap arang batu, uap minyak dan uranium merupakan contoh zat-zat yang meninggikan risiko tersebut. Namun, risiko yang ditimbulkan oleh pencemaran udara jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang ditimbulkan akibat rokok sigaret.

Anwar menjelaskan, proses terjadinya kanker paru-paru membutuhkan waktu 10-20 tahun. Biasanya gejala kanker paru-paru diawali umur 40 tahun dan puncaknya pada usia 60 tahun. ”Apabila semakin dini orang merokok dan terus berkelanjutan, risikonya semakin besar. Apabila orang merokok pada usia 10 tahun lebih tua, risikonya setengah dari orang yang merokok pada usia lebih muda.” Ia mengutip hasil penelitian dr Edy Suryanto yang mengatakan, semakin banyak orang mengonsumsi rokok setiap harinya, akan semakin besar terjadinya kanker paru-paru.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, sekitar 50% penderita kanker paru tidak mengetahui bahwa asap rokok merupakan penyebab penyakitnya. Hal itu disebabkan kurangnya informasi yang diterima masyarakat. Dari hasil penelitian disebutkan hanya 44% penderita kanker paru-paru mendengar bahaya asap rokok dari surat kabar, radio, majalah, televisi, atau petugas kesehatan. Sekitar 0,9% penderita mendapatkan informasi dari sekolah.

Anwar bersama beberapa dokter paru dari RS Persahabatan pernah melakukan penelitian pada anak-anak kelas V dan VI SD di Jakarta Timur. ”Dari 12% anak-anak SD yang sudah diteliti pernah merasakan merokok dengan coba-coba. Kurang lebih setengahnya meneruskan kebiasaan merokok ini.” Prof Anwar memaparkan masalah pendidikan berpengaruh pada kebiasaan merokok. ”Penelitian kami menyimpulkan anak yang tinggal di daerah kumuh, merokok dipengaruhi orang tuanya. Sedangkan pada kelompok yang mapan, kebiasaan merokok pada anak dipengaruhi oleh teman-teman dekat atau saudaranya.” Oleh sebab itu, edukasi bagi masyarakat tentang bahaya merokok sangat penting dilakukan terus-menerus.

”Saya sangat setuju apabila anak membeli rokok harus dengan KTP tetapi mana ada pedagang rokok yang mau peduli. (Nda/V-1 – mediaindo.co.id)

Rokok, Pedang Bermata Dua: Kesehatan vs Uang

(inilah.com/Bayu Suta)

Rokok bagai pedang bermata dua. Dia dibutuhkan karena cukainya memberi pemasukan sangat besar bagi negara. Di sisi lain, kerugiannya dari aspek kesehatan, lebih besar dibanding pajak yang dihasilkan.

Dari sekitar 1,2 miliar perokok aktif di dunia, 800 juta di antaranya berada di negara sedang berkembang yang total penduduknya saat ini berkisar 1,3 miliar jiwa. Benua Asia, termasuk Indonesia, adalah pasar yang potensial bagi perkembangan industri rokok.

Dari rentang usia manapun, sebagian besar perokok di Indonesia termasuk kelompok miskin, yaitu 70% dari total penduduk atau sekitar 141 juta jiwa. Ini berarti 11% belanja orang miskin untuk beli rokok.

Bahkan, dua pertiga penerima bantuan langsung tunai (BLT) membeli sebatang rokok tiap hari. Jika dikalkulasi, angka belanja rokok masyarakat Indonesia tahun 1990 saja mencapai Rp100 triliun.

Sedangkan kerugian masyarakat akibat merokok yang tercatat tahun 1990 adalah sekitar Rp14,5 triliun. Angka ini belum termasuk kerugian pemerintah atas pemakaian fasilitas pengobatan dan pelayanan kesehatan oleh perokok aktif yang menderita sakit akibat komplikasi merokok. Sangat kontras jika dibanding pendapatan pemerintah dari cukai rokok di tahun yang sama sebesar Rp2,6 triliun rupiah.

Kerugian yang diakibatkan rokok selalu lebih besar dibandingkan jumlah keuntungan yang diperoleh, meskipun tingkat pendapatan dari cukai rokok terus ditingkatkan. Dari sisi pendapatan negara, cukai rokok memang mendominasi dengan angka 98%. Departemen Keuangan mencatat, kontribusi cukai rokok terhadap penerimaan dalam negeri mencapai 4-5 %.

Tahun 2005, angkanya mencapai Rp32 triliun. Setahun kemudian meningkat menjadi Rp37,062 triliun atau 5,81% dari total penerimaan dalam negeri yang Rp637,9 triliun. Sedangkan tahun 2007 sumbangan cukai rokok mencapai 5,94% atau Rp43 triliun dan dalam APBN 2008 ditargetkan pemasukan dari cukai rokok sebesar Rp44 triliun atau 5,63% dari total target penerimaan dalam negeri yang Rp 781,354 triliun.

Namun, di bidang kesehatan sendiri, tahun 1950 jumlah kematian akibat kebiasaan merokok di seluruh dunia mencapai 300.000 per tahunnya. Satu setengah dekade berikutnya, angka ini melonjak lebih dari tiga kali lipat atau berkisar 1 juta. Meningkat lagi menjadi 1,5 juta di tahun 1975 dan 3 juta kematian pada tahun 1990-an.

Dari 3 juta kematian ini, 2 juta terjadi di negara-negara maju dan sisanya di negara-negara berkembang. Pola progresivitas tersebut menyiratkan akan terjadi kematian akibat merokok yang lebih besar lagi yaitu sekitar 4,1 juta jiwa tahun ini.

Di sisi lain, pemerintah selalu mengatakan belum mampu memenuhi anggaran kesehatan yang diwajibkan UU sebesar 15% dari APBN. Tahun 2006 anggaran kesehatan berjumlah Rp13,6 triliun rupiah, atau hanya 6,7% dari APBN. Anggaran untuk kesehatan orang miskin juga tidak kalah pelitnya, sama miskinnya bahkan dengan yang ditanggung. Pada tahun 2008 jumlah anggaran untuk orang miskin berjumlah kurang lebih Rp2,8 triliun, turun dibanding tahun 2007 yang Rp3 triliun lebih.

Padahal, melihat cukai rokok, pemerintah bisa mengalokasikan dana dari pendapatan cukai rokok untuk asuransi kesehatan. Dana untuk menanggung asuransi kesehatan 220 juta penduduk Indonesia adalah Rp14 triliun. Kekurangannya bisa mengambil dana dari pajak rokok.

Kompleksitas masalah merokok dewasa ini, diperparah minimnya keterlibatan pemerintah dalam menanggulangi masalah rokok. Aturan-aturan yang berkaitan dengan masalah rokok masih sangat sedikit dan tidak menunjukkan komitmen perbaikan kehidupan rakyat. Meski Peraturan Pemerintah No 81/1999 yang telah diperbaharui dengan PP No 38/2000 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan, sudah diberlakukan, tetapi law enforcement-nya belum ada.

Terkait usulan RUU Pengendalian Dampak Tembakau, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengatakan, pemerintah bisa digugat karena melakukan perbuatan melawan hukum seperti yang tertera dalam Pasal 1365 jo 1366 KUH Perdata.

“Sejak diusulkan dua tahun lalu, ada 256 anggota DPR atau 41,7% dari total anggota yang menandatangani usulan pembuatan UU Pengendalian Dampak Tembakau. Jadi, sangat disesalkan jika DPR belum menjadikannya sebagai UU,” kata Tulus Abadi.

Kerangka kerja konvensi tentang pengendalian tembakau (framework convention of tobacco control, FCTC) telah diratifikasi negara-negara di Asia Tenggara, kecuali Indonesia.

Hanya 5,2% penduduk dunia yang tidak terlindungi FCTC, dan Indonesia menyumbang 70 % dari total populasi yang tidak terlindungi itu,” ujarnya.

Sekretaris Eksekutif Yayasan Jantung Indonesia, Masino, mengatakan pemerintah harus membuat undang-undang untuk menertibkan iklan rokok. Pasalnya, iklan rokok di Indonesia dapat ditemui di sembarang tempat dan tidak tertata.

“Meski sudah diatur, masih sering terlihat tayangan iklan rokok pada jam dan tempat yang tidak semestinya,” paparnya. [INILAH.com]

Terbiasa Kena Paparan Asap Rokok Anak Berisiko Emfisema

Anak-anak yang secara rutin terpapar asap tembakau di rumah sejak kecil, berisiko memiliki penyakit emfisema saat dewasa.

Penelitian di Columbia University’s Mailman School of Public Health di New York, Amerika Serikat, mengungkapkan fakta bahwa anak-anak yang terbiasa terkena paparan asap rokok di rumah, akan berisiko terkena penyakit emfisema.

Emphysema (emfisema) adalah penyakit paru kronis yang dicirikan oleh kerusakan pada jaringan paru, sehingga paru kehilangan keelastisitasannya.

Paparan asap rokok ini tidak sepenuhnya hilang dari paru-paru anak. Ketika, dewasa, paparan asap rokok ini merupakan cikal bakal penyakit emfisema.

Menurut Gina Lovasi, asisten profesor epidemiologi di Columbia’s Mailman School of Public Health, sekitar setengah dari para peserta yang jadi obyek penelitian yang berasal dari multietnis besar memiliki kebiasaan setidaknya ada satu perokok rokok di rumah mereka ketika kecil.

Para peneliti mempelajari computed tomography scan pada 1.781 non-perokok tanpa catatan klinis menderita penyakit kardiovaskuler. Para peserta ini direkrut dari enam komunitas di Amerika Serikat.

“Kami dapat mendeteksi perbedaan pada CT scan paru-paru antara peserta yang tinggal dengan seorang perokok ketika anak-anak dan mereka yang tidak tinggal dengan perokok pada waktu masa anak-anak,” jelas Lovasi seperti dilansir dari UPI.

Dalam pernyataannya, Lovasi mengatakan, “Beberapa dikenal memiliki efek berbahaya pada jangka pendek, dan penelitian baru ini juga sekaligus menunjukkan bahwa efek dari paparan asap tembakau pada paru-paru juga dapat bertahan selama beberapa dekade.”

Penelitian yang diterbitkan American Journal of Epidemiology juga mengatakan paparan asap rokok pada masa kanak-kanak lebih memiliki efek pengaruh kuat ketimbang ibu yang sedang hamil dan terpapar asap rokok. [INILAH.com]

Rokok Membunuh Lima Juta Orang Tiap Tahun

Anak-anak yang tinggal serumah dengan perokok juga ikut terancam kesehatannya.
Unjuk rasa tolak rokok (ANTARA/Rosa Panggabean)

Tembakau atau rokok membunuh separuh dari masa hidup perokok dan separuh perokok mati pada usia 35 – 69 tahun. Data epidemi tembakau di dunia menjunjukkan tembakau membunuh lebih dari lima juta orang setiap tahunnya. Jika hal ini berlanjut terus, pada 2020 diperkirakan terjadi sepuluh juta kematian dengan 70 persen terjadi di negara sedang berkembang.

Menteri Kesehatan Endang R. Sedyaningsih mengatakan tingginya populasi dan konsumsi rokok menempatkan Indonesia menduduki urutan ke-5 konsumsi tembakau tertinggi di dunia setelah China, Amerika Serikat, Rusia dan Jepang dengan perkiraan konsumsi 220 milyar batang pada 2005.

Padahal rokok atau tembakau dapat mengakibatkan berbagai penyakit tidak menular seperti jantung dan gangguan pembuluh darah, stroke, kanker paru, dan kanker mulut. Di samping itu, rokok juga mengakibatkan penurunan kesuburan, peningkatan insidens hamil diluar kandungan, pertumbuhan janin (fisik dan IQ) yang melambat, kejang pada kehamilan, gangguan imunitas bayi dan peningkatan kematian perinatal.

Rokok mengandung lebih dari empat ribu bahan kimia, termasuk 43 bahan penyebab kanker yang telah diketahui, sehingga lingkungan yang terpapar dengan asap tembakau juga dapat mengakibatkan bahaya kesehatan yang serius, kata Endang yang dikutip dari situs Departemen Kesehatan.

Di masa mendatang masalah kesehatan akibat rokok di Indonesia semakin berat karena 2 di antara 3 orang laki-laki adalah perokok aktif. Lebih bahaya lagi karena 85,4 persen perokok aktif merokok dalam rumah bersama anggota keluarga sehingga mengancam keselamatan kesehatan lingkungan. Selain itu, 50 persen orang Indonesia kurang aktivitas fisik dan 4,6 persen mengkonsumsi alkohol, kata Endang.

Lebih 43 juta anak Indonesia serumah dengan perokok dan terpapar asap tembakau. Padahal anak-anak yang terpapar asap tembakau dapat mengalami pertumbuhan paru yang lambat, lebih mudah terkena bronkitis dan infeksi saluran pernapasan dan telinga serta asma.

”Kesehatan yang buruk di usia dini menyebabkan kesehatan yang buruk di saat dewasa,” katanya.

Dengan mengutip data The Global Youth Survey Tahun 2006, Endang  menambahkan 6 dari 10 pelajar (64,2 persen) yang disurvei terpapar asap rokok selama mereka di rumah. Lebih dari sepertiga (37,3 persen) merokok, bahkan 3 di antara 10 pelajar atau 30,9 persen pertama kali merokok pada umur di bawah 10 tahun.

Menurut Menteri Kesehatan meningkatnya jumlah perokok di kalangan anak-anak dan kaum muda Indonesia karena dipengaruhi iklan rokok, promosi dan sponsor rokok yang sangat gencar.

Konsumsi rokok menimbulkan kerugian langsung bagi perokok dan keluarganya, terlebih bagi keluarga miskin. Rata-rata pengeluaran keluarga miskin untuk konsumsi rokok cukup besar. Alih-alih untuk perbaikan gizi keluarga dan pendidikan anak, justru pendapatan yang terbatas dibelanjakan untuk rokok, ujar Endang.

Padahal dengan mengurangi konsumsi rokok di kalangan keluarga miskin, maka subsidi pemerintah untuk pelayanan kesehatan yang menderita penyakit-penyakit akibat rokok dapat dikurangi, kata Endang.

Selanjutnya Endang mengajak dan menghimbau seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama melindungi generasi muda dari bahaya asap rokok.

”Marilah menciptakan lingkungan yang bersih dan bebas asap rokok, sehingga generasi muda kita dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang utuh, berkualitas dan siap membangun negara  Indonesia,” katanya.

Dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, secara jelas menyatakan pengamanan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif (yang meliputi tembakau dan produk yang mengandung tembakau) harus memenuhi standar dan atau persyaratan yang ditetapkan. Selain itu, setiap orang yang memproduksi dan atau memasukkan rokok ke wilayah Indonesia wajib mencantumkan peringatan kesehatan. Dalam UU itu juga mengatur tentang Kawasan Tanpa Rokok guna melindungi masyarakat dari bahaya asap rokok (VIVAnews).

Belanja Rokok, Alkohol Masyarakat Bogor Lampaui Kesehatan, Pendidikan

Belanja Rokok, Alkohol Masyarakat Bogor Lampaui Kesehatan,  Pendidikan

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor dr Triwandha Elan menyatakan keprihatinannya bahwa biaya belanja untuk kebutuhan rokok masyarakat daerah itu justru lebih tinggi ketimbang untuk kesehatan dan pendidikan.

“Berdasarkan data Susenas (Survei Sensus Nasional), belanja rokok dan alkohol di Kota Bogor melebihi belanja untuk kesehatan dan pendidikan,” katanya di Bogor, Minggu.

Dikemukakannya bahwa untuk belanja rokok/alkohol mencapai 6,9 persen, sedangkan belanja untuk pendidikan 6,4 persen dan kesehatan hanya 2 persen.

“Sementara pengeluaran belanja rokok KK (kepala keluarga) miskin dari jumlah 41.349 KK miskin per tahunnya lebih dari Rp20 miliar,” katanya.

Ia juga menyodorkan data lain, yakni berdasarkan hasil riset kesehatan dasar Kota Bogor tahun 2007, jumlah perokok di Kota Bogor mencapai 29,6 persen dengan rata-rata jumlah batang rokok yang dihisap per hari 8,89 persen.

Sedangkan berdasarkan hasil Surkesda (Survei Kesehatan Daerah) tahun 2004, dari hasil Surkesda disebutkan bahwa jumlah perokok laki-laki di rumah tangga mencapai 57 persen, sedangkan perokok wanita 47 persen di rumah tangga di Kota Bogor.

Populasi jumlah penduduk di Kota Bogor berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sebanyak 905.132 jiwa atau hampir 1 juta jiwa.

Guna menekan turunnya jumlah perokok, katanya, sejauh ini Kota Bogor telah memiliki peraturan daerah (Perda) Nomor 8 tahun 2006 tentang ketertiban umum pasal 14,15, dan pasal 16 yang mengatur KTR (kawasan tanpa rokok).

Dalam perda ini antara lain mengatur tentang pelarangan merokok di lingkungan lembaga pendidikan, kesehatan, tempat-tempat umum, tempat ibadah, arena bermain anak, tempat kegiatan belajar mengajar dan tempat kerja dan pelarangan merokok di dalam angkutan kota.

“Rencananya tahun ini Perda KTR akan dibuat khusus, yang tidak lagi digabungkan dengan Perda ketertiban umum,” katanya.

Sementara itu, cendekiawan muda Nahdlatul Ulama (NU) Bogor Ahmad Fahir, MSi berpendapat bahwa deklarasi KTR di Kota Bogor yang telah dicanangkan unsur masyarakat dan pemerintah kota (Pemkot) Bogor akhir Mei 2009 hendaknya jangan berhenti pada kegiatan seremonial deklarasi formal saja.

“Pola deklarasi-deklarasi mengenai apapun yang bertujuan baik, seringkali kemudian berhenti pada sebatas deklarasi itu sendiri.

Nah…apakah deklarasi KTR di Kota Bogor bisa menjadi aksi berkesinambungan, itulah tantangan dan ujiannya agar tidak seperti kebiasaan deklarasi yang ada,” katanya.

Deklarasi KTR telah dilakukan oleh ratusan unsur masyarakat dan kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan deklarasi yang dilakukan Wakil Wali Kota Bogor Achmad Ru`yat, Wakil Ketua DPRD Iwan Suryawan, dan Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bogor Hj Fauziah Diani Budiarto.

Mereka membubuhkan tanda tangan pada papan berukuran 1 x 1 meter persegi. Dalam deklarasi antara lain disebutkan bahwa perwakilan masyarakat bertekad untuk menegakkan kawasan tanpa rokok di Kota Bogor.

Menurut Ahmad Fahir, mengapa komitmen deklarasi KTR itu perlu “dikawal” agar tidak terjebak pada pola deklarasi yang ada, karena berdasarkan temuan inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan seksi promosi kesehatan Dinkes Kota Bogor, ternyata penerapan KTR seperti yang diatur dalam peraturan daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2006 tentang ketertiban umum di lingkup kantor pemerintah saja masih ditemukan pelanggaran.

Ia merujuk pada Sidak yang dilakukan Kepala Seksi Promosi Dinkes Kota Bogor drg Yunita bersama empat anggota tim, ke kantor Kecamatan Bogor Timur, ditemukan beberapa pegawai kecamatan yang sedang merokok di ruang kerjanya.

“Itu sebabnya bahwa tantangan ke depan, terlebih setelah ada deklarasi membutuhkan komitmen sungguh-sungguh,” kata pria yang baru menyelesaikan studi strata 2 (S2) Komunikasi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) itu.

Wakil Wali Kota Bogor Achmad Ru`yat sendiri sepakat bahwa dideklarasikannya KTR yang dilakukan berbagai unsur masyarakat itu tidak hanya sebatas deklarasi, tapi bisa diwujudkan di lingkungan masyarakat di seluruh wilayah Kota Bogor (ANTARA News).

Tembakau Bisa Bunuh 1 Miliar Orang

London: Tembakau dapat menewaskan satu miliar orang pada abad ini apabila kecenderungan sekarang berlangsung terus. Hal tersebut merupakan sebagian dari temuan sejumlah ahli yang dipaparkan dalam Tobacco Atlas baru oleh World Lung Foundation and American Cancer Society, Selasa (25/8).

Pemakaian tembakau menelan biaya global sebanyak US$ 500 miliar per tahun dalam bentuk biaya medis langsung, kehilangan produktifitas dan kerusakan lingkungan hidup. Tembakau mengambil tempat potensi produksi makanan di atas lahan pertanian seluas hampir empat juta hektare di planet ini, sama dengan luas perkebunan jeruk atau pisang.

Sebanyak 100 juta orang tewas akibat tembakau pada Abad 20. Tembakau bertanggung jawab atas satu dari 10 kematian di seluruh dunia. Perokok meninggal rata-rata 15 tahun lebih dini dibandingkan orang yang tidak merokok.

Penggunaan tembakau akan menewaskan enam juta orang pada 2010 akibat penyakit kanker, jantung, bengkak pada paru-paru karena pembuluh darahnya kemasukan udara dan penyakit lain. Tembakau menewaskan sepertiga sampai separuh orang yang merokok.

Risiko kematian akibat kanker paru-paru lebih dari 23 kali lebih besar pada pria yang merokok dibandingkan dengan yang tidak merokok dan 13 kali lebih tinggi pada perempuan yang merokok. Penggunaan tembakau akhirnya akan menewaskan 250 juta dari seluruh remaja dan anak-anak saat ini.

Siapa yang merokok? Sebanyak satu miliar pria merokok, 35 persen pria di negara kaya dan 50 persen pria di negara berkembang. Sebanyak 250 juta perempuan merokok setiap hari, 22 persen di negara maju dan 9 persen perempuan di negara berkembang.

Menurut laporan tersebut, angka perokok di kalangan perempuan stabil atau naik di beberapa negara di Eropa timur, tengah dan selatan. Hampir 60 persen pria China merokok dan China mengkonsumsi lebih dari 37 persen rokok di dunia.(Metrotvnews.com,)

Kombinasi Rokok dan Oksigen Membahayakan si Perokok

img
(Foto: assetcatche)

Jakarta, Kasus meledaknya rokok yang dialami Andi Susanto harusnya menjadi pelajaran bagi para perokok. Meski penyebabnya masih misterius, namun rokok terbukti menyebabkan kerugian, apapun alasannya. Kasus ledakan rokok juga ternyata banyak terjadi pada para pengguna terapi oksigen. Kombinasi rokok dan oksigen sangat membahayakan si perokok.

Andi Susanto kehilangan 5 gigi dan bibirnya terpaksa dijahit setelah rokok ketiga yang diisapnya meledak. Dia mengisap rokok sembari naik motor. Namun penyebab ledakan rokok itu hingga kini masih diteliti.

Ledakan akibat merokok juga bisa terjadi saat seseorang melakukan terapi oksigen. Sekitar 1 juta orang lanjut usia di Amerika memiliki alat Long Term Oxygen Therapy (LTOH) untuk mengatasi penyakit paru-paru kronis. Terapi oksigen pertama kali diperkenalkan pada tahun 1922 sebagai pengobatan terapi untuk penyakit Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD).

Penyebab utama penyakit COPD adalah rokok. Gejalanya antara lain yaitu sesak nafas, batuk kronik, aktivitas memburuk, dan kondisi paru-paru yang abnormal (menggembung).

Tapi yang namanya sudah kecanduan memang sulit dihentikan. Meskipun sudah terkena penyakit paru kronis dan harus mendapat terapi oksigen masih banyak pasien yang tetap nekat merokok. Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika melaporkan, 5 hingga 40 persen orang yang melakukan terapi LTDH tetap merokok.

Padahal kombinasi rokok dan oksigen sangat berbahaya. Setidaknya ada 5 kasus kematian dan 79 yang harus dirawat di rumah sakit akibat meledaknya rokok saat melakukan terapi oksigen sejak tahun 2000 hingga 2007.

Seperti dilansir Medbc, Senin (1/2/2010), seorang pria berusia 58 tahun harus dilarikan ke rumah sakit karena wajahnya terbakar akibat ledakan rokok. Ia mengatakan bahwa rokok yang ia nyalakan tiba-tiba meledak. Setelah diselidiki ternyata pria tersebut menyalakan rokok saat melakukan terapi oksigen di rumahnya.

Itu sebabnya mengapa merokok dilarang di tempat-tempat yang banyak mengandung gas seperti pom bensin. Adanya gas-gas volatil (mudah menguap), termasuk oksigen dalam bahan bakar bisa memicu ledakan ketika ada api yang berasal dari rokok.

Sementara itu, merokok di dalam ruangan ber-AC juga dilarang karena bisa menimbulkan risiko bahaya bagi para perokok pasif. Dalam ruangan AC, partikel-partikel rokok akan berada di tempat itu saja sehingga sirkulasi udara di ruangan itu akan tercemar.

Sistem AC yang terkena polusi rokok juga akan menghasilkan ion positif dalam jumlah yang besar di dalam ruangan. Hal ini akan membuat udara menjadi jenuh dengan ion tersebut dan akhirnya membuat orang yang berada di ruangan itu menjadi lemah, sakit kepala dan pusing-pusing.

Kasus-kasus akibat merokok memang masih banyak lagi, seperti kasus kebakaran rumah, kecelakaan lalu lintas dan lainnya. Namun kasus ledakan rokok yang dialami Andi Susanto harusnya sudah bisa menjadi pelajaran betapa membahayakannya mengisap rokok (detikHealth).

Pakai Koyo Nikotin 6 Bulan Bisa Hentikan Kebiasaan Merokok

img
(Foto: stopsmokingsteps)

Pennsylvania, Besarnya bahaya merokok sudah diketahui para perokok namun keinginan berhenti merokok kadang banyak hambatannya. Memakai koyo nikotin selama 6 bulan terbukti cukup ampuh mengusir kebiasaan merokok dan mengurangi keinginan untuk kembali merokok.

Standar terapi koyo nikotin yang disarankan industri yang memproduksi koyo tersebut adalah 2 bulan. Namun dalam sebuah studi yang melibatkan 568 orang perokok, terbukti bahwa perokok yang memperpanjang masa pemakaian koyo nikotin menjadi 6 bulan lebih bisa menghentikan kebiasaan merokoknya 2 kali lipat dibanding partisipan yang hanya memakai koyo nikotin selama 2 bulan.

Di akhir studi 31,6 persen partisipan berhasil tidak merokok lagi setelah 6 bulan memakai koyo nikotin. Dalam laporan yang dimuat di Annals of Internal Medicine juga disebutkan bahwa perokok yang memperpanjang masa terapinya menjadi 6 bulan, lebih bisa mengekang nafsunya untuk merokok lagi pada masa-masa relapse (kambuh).

“Hasil studi kami menunjukkan, perokok yang kambuh lagi saat mencoba untuk berhenti merokok bisa tertolong dengan meneruskan memakai koyo tersebut,” kata Robert Schnoll, profesor psikiatrik dari University of Pennsylvania School of Medicine seperti dilansir Health, Rabu (3/2/2010).

Setelah 1 tahun, partisipan yang benar-benar bisa berhenti merokok adalah sebanyak 14,5 persen. Keberhasilan terapi nikotin ini membuktikan bahwa dengan pemakaian yang konsisten, tidak ada yang tidak mungkin bagi perokok yang ingin berhenti merokok (detikHealth).

Ingin Lebih Muda 5 Tahun? Stop Merokok!

Inilah alasan lain Anda harus berhenti merokok sekarang juga!
Stop Merokok (doc Corbis)

Rokok memiliki racun mematikan. Banyak pakar kesehatan yang memprediksi perokok tidak akan memiliki umur panjang.

Karena itu, jika Anda ingin berumur panjang cobalah berhenti merokok. Hasil dari penelitian di Inggris, berhenti merokok bisa memperpanjang usia seseorang. Bahkan, mereka yang telah divonis menderita kanker paru-paru pun, setelah berhenti merokok bisa bertahan hidup lebih lama.

Dan, yang mencengangkan, mereka yang didiagnosa menderita kanker paru-paru stadium awal memiliki peluang dua kali lipat bisa bertahan hidup lebih lama dengan catatan tidak lagi menghisap nikotin.

Meskipun sebelumnya tidak ada bukti kuat, pasien kanker paru-paru yang berhenti merokok bisa bertahan lebih lama. Namun, berdasarkan analisis peneliti Inggris dari sepuluh studi tentang tingkat ketahanan hidup menunjukkan, dampak berhenti merokok cukup signifikan.

Mereka mencatat bahwa perokok aktif dengan kanker paru-paru memiliki 29-33% kemungkinan selamat dalam lima tahun ke depan. Sementara mereka yang telah berhenti merokok 63-70% akan bertahan untuk jangka waktu yang sama.

Para ilmuwan masih tidak yakin apakah bahaya nikotin dari rokok sangat berkaitan erat dengan kanker paru-paru. Meski demikian dari hasil analsisis ini bisa diketahui bahwa masih ada harapan baru meskipun belum bisa dibuktikan apakah rokok sebagai modus utama penyebab kematian cepat pada penderita kanker paru-paru.

Peneliti yang memimpin studi ini pun mengatakan bahwa dengan hasil penelitian ini ada pemahaman kemampuan tubuh untuk pulih kembali, bahkan setelah diagnosis dini kanker paru-paru, dapat juga mengarah pada pengembangan pengobatan baru untuk penyakit.

Lebih banyak orang di seluruh dunia menderita kanker paru-paru daripada kanker lain dan sering didiagnosis terlambat. Walaupun kematian akibat kanker telah turun dalam beberapa tahun terakhir, analisis baru-baru ini oleh National Institute of Cancer menunjukkan, gender memegang peranan penting dalam kondisi bertahan.

Pria yang meninggal akibat akibat kanker berkurang 10% 2002-2006, sementara kematian wanita turun hanya 7,5%. Peningkatan pemeriksaan medis, teknologi, dan gaya hidup sehat diprediksi menjadi pemicu semangat seseorang untuk bertahan hidup lebih lama. Walaupun relatif, kematian dari kondisi lain seperti stroke dan penyakit jantung menurun sebanyak 50%.

Temuan pada 2009 juga menunjukkan, lebih sedikit pria daripada wanita yang didiagnosis dengan kanker. Meskipun angka-angka ini memiliki kekhawatiran besar ketika diketahui bahwa kanker paru-paru menduduki peringkat tertinggi penyebab kematian, namun korban terbanyaknya adalah wanita. Hal ini terjadi karena saat ini lebih banyak wanita perokok ketimbang pria (VIVAnews ).