Monthly Archives: Januari 2010

Hati-hati, Rokok Percepat Kerusakan DNA

Hanya dengan 15 batang rokok memicu 1 kali mutasi gen pada DNA, yang bisa sebabkan kanker.

Anda pasti sudah tahu dampak negatif dari merokok. Hal lain yang mungkin Anda belum tahu adalah dengan 15 batang rokok memicu satu kali mutasi gen pada DNA (Deoxyribose Nucleic Acid) seseorang. Hal itu menurut penelitian genetik yang dilakukan pada pasien kanker paru-paru.

Tim peneliti Inggris yang berasal dari Wellcome Trust Sanger Institute di Cambridgeshire, inggris melakukan proyek internasional untuk meneliti tanda-tanda kerusakan yang disebbakan oleh rokok. Mereka mengidentifikasi 23.000 mutasi yang diperkirakan merupakan kerusakan yang diakibatkan zat kimia pada rokok.

Seluruh pasien kanker yang diteliti semuanya mengalami kesalahan dalam kode genetiknya (DNA) dan hal itu karena terjadi mutasi gen yang berkali-kali. Kombinasi mutasi gen dan kerusakan DNA ini menyebabkan penyakit baik tumor ataupun kanker.

Jadi, bisa Anda bayangkan jika seseorang yang merokok selama hidupnya. Bisa terjadi puluhan atau bahkan ratusan kali terjadi mutasi gen dan risiko terkena kanker pun semakin besar.

“Mutasi DNA bisa disebabkan banyak hal salah satunya adalah rokok. Zat pada rokok bisa menyebabkan pertumbuhan sel tidak terkontrol atau tidak semestinya. Hal itulah yang menjadi pemicu kanker,” kata  dr Andy Futreal, dari Wellcome Trust, seperti vivanews kutip dari Daily Mail.

Minimalkan kerusakan DNA Anda atau orang-orang tersayang dengan menghindari rokok. Mungkin saat ini tidak terjadi masalah pada kesehatan tetapi pada lima atau sepuluh tahun mendatang, bisa saja kerusakan DNA semakin banyak dan memicu penyakit kanker (VIVANews).

Iklan

Fakta Mengerikan: Rokok Jadi Tren Bagi wanita

Inilah sebuah fakta ironis yang terjadi di kalangan wanita.

Di zaman modern saat ini semakin banyak wanita dewasa yang menjadikan kegiatan menghisap rokok sebagai suatu kebiasaan di waktu senggang.

Bahkan dikalangan wanita perokok, hal ini sudah menjadi tren meskipun kegiatan itu sangat membahayakan kesehatan.

Rata-rata wanita perokok mengaku, menghabiskan satu bungkus rokok sehari sudah menjadi kebiasaan. Disaat senggang, beberapa wanita mengaku, merokok bisa membantu mereka meringankan stres karena tumpukan pekerjaan atau masalah percintaan.

Sekedar informasi, satu rokok saja yang Anda hisap setiap hari, bisa merusak kesehatan. Para ahli mengatakan bahwa setiap batang rokok yang Anda hisap, akan menyebarkan racun dan karsinogen yang bisa merusak seluruh sistem tubuh Anda. Kanker paru-paru dan penyakit jantung adalah resiko utama dari rokok.

Oleh karena itu, jangan jadikan rokok sebagai tren tapi fikirkan resikonya sebelum Anda melakukannya, karena efek samping dari rokok sangat membahayakan kesehatan, terutama untuk para wanita muda. Efek dari rokok bisa menyebabkan penuaan dini. Kulit jadi mudah keriput dan timbul bercak-bercak. Merokok di usia muda juga bisa mempengaruhi masalah kesuburan Anda.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa wanita perokok lebih cenderung memiliki telur yang rusak, mengalami masalah dalam kehamilan, dan menyebabkan angka keguguran yang lebih tinggi daripada wanita yang bukan perokok.

Jadi, jangan pernah menipu diri sendiri. Sebenarnya, mungkin Anda tahu betul seputar bahaya rokok dan resikonya. Jangan jadikan kegiatan itu sebagai suatu kebiasaan dan gaya hidup. Jika Anda sedang berada di waktu senggang, pertimbangkanlah untuk berhenti merokok atau konsultasi ke dokter untuk mencari tahu bagaimana cara menghilangkan kebiasaan buruk tersebut (VIVANEWS).

Orang Miskin Dilarang Merokok!

MEROKOK tak mengenal kasta. Perokok dapat berasal dari kalangan eksekutif sampai pengangguran. Sering kita lihat

juga seorang pemulung, tukang becak, atau para pekerja kasar lainnya yang santai mengisap rokok.

Rokok yang dihabiskan sehari-hari ternyata bukan dalam jumlah yang sedikit. Bahkan, tak sedikit yang rela mengorbankan penghasilannya demi kenikmatan sesaat mengisap asap tersebut.

“Tiap hari saya menghabiskan tiga bungkus rokok. Penghasilan saya seharinya itu sekitar Rp 50.000. Setengah penghasilan itu buat rokok,” kata Subardi, seorang supir Kopaja berbagi pengalamannya.

Ia mengaku, penghasilannya saat ini sudah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, untuk melepaskan diri dari rokok berat karena sudah dilakukannya sejak 30 tahun lalu.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Univeritas Indonesia, ditemukan fakta bahwa keluarga miskin memang menghabiskan sebagian besar uang mereka untuk memenuhi kebutuhan akan tembakau dan sirih.

“Jika keluarga miskin dibandingkan dengan keluarga kaya, akan terlihat pengeluaran rumah tangga perokok termiskin terhadap tembakau dan sirih lebih tinggi yaitu 9,3 persen dan keluarga kaya hanya mengeluarkan 6,8 persen,” papar Ayke Soraya Kiting, peneliti dari Lembaga Demografi FEUI dalam jumpa pers yang membahas beban konsumsi rokok bagi kelurga termiskin di Jakarta, Kamis (26/2).

Pada keluarga miskin, rokok menempati urutan kedua konsumsi terbesar setelah padi-padian, sedangkan pada keluarga kaya pada urutan keenam. Ia mengatakan, setengah keluarga miskin di Indonesia mempunyai pengeluaran untuk merokok.

“Pada tahun 2005, empat dari sepuluh rumah tangga miskin mengonsumsi rokok. Lalu pada tahun 2006, angka tersebut meningkat menjadi 5 dari 10 rumah tangga miskin mengonsumsi rokok,” terang Ayke.

Konsumsi rokok lebih besar daripada kebutuhan lain. Rata-rata pengeluaran untuk rokok pada keluarga miskin adalah 17 kali lebih besar dari pengeluaran untuk daging, 15 kali lebih besar dari pengeluaran untuk biaya pengobatan, 9 kali lebih besar dari biaya pendidikan, 5 kali lebih besar dari pengeluaran susu dan telur, dan 2 kali lebih besar dari pengeluaran untuk ikan.

Pada kesempatan yang sama, Abdillah Ahsan yang juga peneliti dari Lembaga Demografi FEUI mengatakan, salah satu yang menjadi alasan bagi keluarga miskin tetap merokok adalah mudahnya rokok didapat. Rokok itu barang yang legal, dapat dibeli di mana saja.

Padahal, telah menjadi pengetahuan umum bahwa merokok merusak kesehatan. Jika kesehatan terganggu, produktivitas pun akan turun. Keluarga miskin harus menanggung akibat yang lebih besar jika ada anggota keluarga sakit karena rokok.

“Itu jelas akan semakin memperparah keadaan ekonomi keluarga miskin,” kata Abdillah. Jelas bahwa keluarga miskin harus berpikir dua kali untuk tetap merokok karena keputusan untuk bertahan merokok membuat keluarga tetap miskin atau bahkan makin miskin. Boleh jadi, orang miskin memang dilarang merokok (Kompas).

Setiap Hari 1.000 WNI Meninggal Akibat Rokok

Indonesia hingga kini masih berada di peringkat tiga sebagai negara dengan penduduk terbanyak mengonsumsi rokok setelah China dan India.

Menurut peneliti dari Pusat Kajian Bioetik dan Perilaku Kesehatan Fakultas Kedokteran (FK) UGM Yayi Suryo Prabandari, kondisi tersebut sama dengan keberadaan masyarakat Indonesia yang terserang TBC.

“Indonesia masih tinggi di urutan ke tiga setelah China dan India. Ini sama halnya dengan posisi masyarakat Indonesia yang terserang TBC,” kata Yayi di FK UGM, Jumat (29/5/2009).

Yayi Suryo menambahkan sebagaimana hasil survei dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia ini maka setiap harinya di Indonesia diperkirakan 1.172 orang tewas akibat tembakau khususnya rokok ini.

Dari jumlah itu memang masih didominasi kaum pria yang mencapai 67 persen dan perempuan sekira 5 persen. Namun demikian saat ini telah ada tren peningkatan jumlah remaja terutama kaum putri yang merokok hingga 30 persen.

Sementara itu menurut peneliti lainnya Prof Sunarto, hingga sekarang di kawasan Asia Pasifik, Indonesia merupakan satu-satunya negara yang belum menerapkan Konvensi soal pemakaian tembakau dalam Framework on Tobaco Control (FCTC) yang telah ditandatangani 160 negara. Padahal dalam konvensi itu diatur secara ketat pemakaian tembakau untuk rokok seperti produksi, iklan dan penggunanya.

“Dalam konvensi itu ketat diatur bagaiamana produksi rokok diturunkan, iklan rokok dihapus, anak-anak dilarang merokok hingga pemakaian kawasan rokok,” kata Sunarto.

Dalam kesempatan tadi Sunarto juga mendesak agar pemerintah bisa menerapkan kebijakan yang telah ditempuh oleh beberapa negara dalam iklan rokok. Di sejumlah negara seperti Thailand, pada setiap bungkus rokok selain ditulis bahaya merokok juga disertai gambar korban bahaya merokok sehingga lambat laun akan mengurangi jumlah perokok.

“Dari beberapa survei hal itu juga berpengaruh terhadap tingkat pengguna merokok yang turun jika disertai gambar korban perokok,” tutur Sunarto. (Satria Nugraha/Trijaya/ful – okezone)

Pilih Rokok daripada Biayai Sekolah Anak!

Konsumsi rokok diyakini sebagai salah satu indikator kemiskinan masyarakat Indonesia selama ini, akibatnya perilaku tersebut tidak hanya dapat mengurangi pendapatan, belanja bulanan keluarga, hingga berujung pada kematian.

“Saya pernah menemukan kesaksian ada seorang sopir berpenghasilan Rp50 ribu sehari dengan empat anak yang kedua anaknya tidak sekolah dengan alasan biaya. Anehnya, sopir tersebut mampu menghabiskan uang Rp24 ribu per hari untuk membeli tiga pak rokok,” kata Peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Abdillah Ahsan, di Surabaya, Kamis.

Ia mengakui, hal itu memang fenomena umum yang sering ditemui diantara masyarakat miskin di Indonesia. “Meski sang kepala rumah tangga memiliki penghasilan terbatas, ia mengonsumsi rokok seperti layaknya kereta api,” katanya.

Menurut dia, merokok berdampak pada berkurangnya pendapatan yang bisa dibelanjakan untuk kepentingan lain seperti makanan yang sehat dan layak, biaya sekolah, dan sebagainya.

“Semisal, seorang kepala keluarga mengonsumsi rokok satu pak seharga Rp5 ribu per hari. Padahal, uang yang terbakar melalui rokok tersebut bisa dibelikan tiga butir telur yang mengandung banyak gizi untuk makan seluruh anaknya,” katanya.

Selain itu, kata dia, secara ilmiah terbukti bahwa merokok menimbulkan banyak masalah kesehatan dan meningkatkan biaya kesehatan yang jumlahnya bisa tiga kali lipat dari cukai rokok.

“Bahkan, lebih dari 70.000 penelitian di Amerika Serikat berhasil membuktikan bahaya merokok bagi kesehatan,” katanya.

Melihat beragam kenyataan itu, ia berharap, pemerintah mengambil sikap tegas. Salah satunya dengan menaikkan harga cukai rokok, melarang secara total iklan rokok, dan memasang peringatan bergambar mengenai bahaya merokok.

“Sekarang, besaran cukai rokok rata-rata baru 38 persen. Padahal, dalam Pasal 5 UU Nomer 39 Tahun 2007, pemerintah boleh mematok cukai hingga 57 persen. Namun, besaran itu ternyata masih rendah dibandingkan patokan cukai luar negeri yang mencapai 65 persen,” katanya (Kompas).

Merokok Saat Hamil? Hmmm… Sayangi Janin Anda

Ibu hamil yang merokok selama masa kehamilannya berisiko membuat anak mereka terkena gejala gangguan jiwa seperti delusi dan halusinasi. Sebuah survei di Inggris menunjukkan bahwa ibu hamil yang merokok sekitar 20 persen lebih mudah tertimpa permasalahan itu.Risiko tersebut akan meningkat sekitar 84 persen jika jumlah rokok yang diisap mencapai 20 puluh batang atau lebih dalam sehari.

Riset yang diselenggarakan Universitas Cardiff, Nottingham, Bristol dan Warwick itu, seperti dikutip BBC, merupakan bagian dari sebuah studi jangka panjang Avon Longitudinal Study of Parents and Children yang meneliti bagaimana genetik dan lingkungan mempengaruhi kesehatan.

Salah satu survei dalam penelitian jangka panjang itu dilakukan terhadap kelompok anak usia dua belas tahun yang ibunya merokok semasa kehamilan. Anak-anak itu diteliti sejauh mana mengalami kejadian halusinasi.

Selain itu, diteliti pula kemungkinan konsumsi ganja dan alkohol oleh ibu mereka. Ketua tim peneliti Stanley Zammit mengatakan, paparan tembakau dapat mempengaruhi pertumbuhan otak janin. Hasil studi tersebut setidaknya memperkuat larangan merokok selama masa kehamilan yang masih banyak diabaikan oleh perempuan, setidaknya di Inggris. Di negara ters ebut, sekitar 15 persen perempuan hamil masih tidak melepaskan kebiasaan buruknya merokok (Kompas).

Baca juga:

Kena Asap Rokok Saat Hamil Bikin Bayi Mati Mendadak

Butuh Niat untuk Bebas dari Jeratan Asap

Awalnya hanya coba-coba akhirnya jadi kecanduan. Begitulah awal mula seorang perokok pemula berubah menjadi perokok tetap bahkan mengalami adiksi nikotin. Kebanyakan perokok bukannya tak tahu bahaya merokok, tetapi untuk berhenti total bagi mereka tak semudah membalik telapak tangan.

Berhenti merokok merupakan suatu proses, sehingga memerlukan waktu. Menurut dr.Tribowo Ginting, Sp.KJ, dari RS.Persahabatan Jakarta, ada beberapa tahapan yang dilalui perokok yang ingin berhenti, yakni tahap prakontemplasi, kontemplasi, persiapan, tindakan, dan terakhir tahap ruwatan (maintenance).

“Pada tahapan prakontemplasi biasanya perokok masih menolak untuk berhenti,” katanya. Karena itu sebaiknya jangan memaksa perokok untuk berhenti karena tidak efektif. “Niat berhenti harus datang dari perokok sendiri,” katanya. Bila tahap ini sudah dilalui, akan lebih mudah melewati tahap selanjutnya.

Saat proses berhenti merokok, ada perubahan yang dialami perokok akibat putus nikotin. Gejala tersebut antara lain ketagihan tembakau, mudah tersinggung dan marah, cemas, gelisah, konsentrasi terganggu, nyeri kepala, ngantuk, dan gangguan pencernaan.

“Sifat adiksi nikotin ini membuat reseptor di otak merasa senang sesaat dan kemudian ketagihan dengan nikotin,” jelas Bowo. Namun gejala-gejala tersebut akan berhenti setelah satu atau dua minggu. Pada masa inilah dukungan dan dorongan dari orang sekitar sangat diperlukan.

“Hargai usaha mereka untuk berhenti, menyediakan waktu bila perokok perlu dukungan, tidak menghakimi, atau melakukan perayaan kecil karena perokok sudah berhenti,” kata dokter Bowo dalam acara peluncuran program Quitters Are Champions di Jakarta (26/6).

Selain itu keluarga juga bisa membantu memberi fakta, baik yang buruk atau yang baik bila perokok bimbang dan ingin merokok lagi. Teman atau keluarga juga bisa mengajak perokok melakukan kesibukan atau aktivitas pengalih perhatian.

Menurut Bowo, penyebab kegagalan yang paling banyak adalah pergaulan. “Karena itu jika sudah berhenti merokok, sebaiknya jauhi teman-temannya yang masih merokok,” katanya (Kompas).

4 Makanan Penyembuh Kecanduan Rokok

Rokok, dikatakan sebagai pendamping setia di kala stres menekan, dipuja oleh banyak kalangan dari yang menengah ke atas sampai ke bawah sebagai dewa penghilang stres. Dan kini, rokok populer di semua kalangan tak hanya para adam, kaum hawa-pun memuja rokok. Bahkan saking tergantungnya pada rokok, ada lho yang baru bangun tidur justru rokok yang dicari, bukan barang lainnya. Tak heran muncul pula motto bagi perokok, “Lebih baik nggak makan daripada nggak merokok”, motto yang mungkin bagi telinga kita terdengar konyol.

Begitu hebatnya pengaruh rokok ternyata tak cukup kuat untuk membuat sebagian besar orang berusaha untuk berhenti merokok. Pelbagai usahapun akhirnya dicoba, mulai dari berpuasa, rehabilitasi, atau mengganti rokok dengan permen. Namun tahukah Anda bahwa sebenarnya ada empat jenis menu makanan yang sangat membantu proses penyembuhan dari candu rokok?

Duke University, sebuah universitas di Durham, Amerika Serikat membuat sebuah penelitian tentang para perokok. Dari penelitian tersebut kemudian dihasilkan bahwa ada empat menu makanan yang dapat membantu perokok sembuh dari kecanduannya. Makanan tersebut antara lain:

1. Buah-buahan

Mereka yang kecanduan rokok pada umumnya kekurangan vitamin C, hal ini disebabkan karena adanya kandungan nikotin di dalam darah. Nikotin mempengaruhi metabolisme tubuh yang menyebabkan tubuh kita tidak mampu menyimpan vitamin C dengan baik.

Buah-buahan adalah sumber vitamin C yang sangat baik, dan untuk berhenti merokok, Anda harus banyak mengonsumsi buah-buahan yang kaya vitamin C agar nikotin di dalam darah bisa diusir dan digantikan dengan vitamin C yang sehat bagi tubuh.

Buah-buahan seperti jeruk, lemon, berry-berryan, adalah buah yang kaya akan vitamin C. Perbanyak konsumsi buah-buahan tersebut dan dalam beberapa waktu vitamin C akan mengusir habis nikotin dari tubuh Anda.

2. Sayuran

Sayuran hijau, seperti brokoli, sangat baik bagi kesehatan jantung dan paru-paru. Zat anti-kankernya melindungi jantung dan paru-paru Anda dari racun asap rokok yang tinggal di dalam tubuh. Zat di dalam brokoli akan mengurangi efek racun nikotin yang perlahan menjalar di tubuh Anda.

Sayuran lain seperti seledri, terong, kacang-kacangan dan mentimun juga sangat baik bagi pecandu rokok. Dengan mengonsumsi sayuran tersebut secara rutin, zat di dalam sayuran sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungan tubuh pada nikotin.

3. Aneka Produk Susu

Memang tak banyak yang menyukai rasa susu, namun susu justru sangat baik untuk mendukung program penyembuhan kecanduan rokok ini. Susu ternyata dapat mempengaruhi rasa dari rokok, menjadikannya terasa pahit dan tidak enak. Rasa tidak enak tersebut akan membuat perokok perlahan jera mengonsumsi rokok.

Konsumsi susu sehari dua kali, dengan demikian tanpa Anda sadari rokok yang Anda hisap perlahan berkurang sedikit demi sedikit.

4. Minuman non-karbon

Jauhi softdrink dan perbanyak minum air mineral atau jus buah. Kandungan nutrisi dalam jus buah akan membantu membersihkan racun nikotin di dalam tubuh. Sedangkan softdrink, atau kopi justru membuat tubuh Anda semakin haus pada nikotin.

Yuk sembuh dari kecanduan rokok, biarkan tubuh Anda bernafas lebih lega tanpa pengaruh nikotin yang terus meracuni setiap bagian tubuh Anda. (Kpl/ICH – metrotvnews.com)

Apakah Betul Rokok Tambah Kas Negara?

Tidak benar jika ada opini yang mengatakan negara kita akan rugi jika pabrik rokok ditutup, karena menyumbang 50-54 triliun ke kas negara. “Memang pemasukannya segitu tetapi pengeluaran negara dan masyarakat karena rokok sebesar 5-7 kalinya,” kata Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau Farid Anfasa Moeluk mengutip hasil studi Bapenas seusai Talkshow Klinik di Kedai Tempo Jakarta (2/6).

Dengan kata lain, lanjutnya, kita untung 50 triliun tapi rugi 250 triliun. “Masyarakat kita cenderung melihat persoalan per kasus, tidak general. Sehingga, yang kita lihat angka keuntungannya tapi kurang melihat kerugian,” kata Farid Lalu ia menambahkan, yang termasuk pengeluaran negara dan masyarakat akibat rokok itu seperti biaya berobat, rumah sakit, anak tidak sekolah, dan pemakaman.

“Kenapa pemakaman? Ternyata, menurut Farid, 22 persen dari seluruh kematian di Indonesia disebabkan rokok. “Bentuk penyakitnya bisa serangan jantung, stroke, kanker paru, kanker payudaran atau kanker serviks,” pungkas Farid (Kompas).

Banyak Orang Meragukan Bahaya Rokok!

Sebagian besar masyarakat kurang percaya, kalau rokok berbahaya bagi kesehatan, karena reaksi penyakit yang ditimbulkan dari nikotin tembakau itu cukup lama yakni berkisar antara 20 sampai 25 tahun.

Perokok baru merasakan akibat nikotin tembakau itu,bila sejak usia 18 tahun mulai merokok sampai umur di atas empat puluh, baru penyakit dideritanya mencapai medium empat(Kronis), kata Dr Widyastuti Soerojo MSc di Jakarta.

Menurut dia, hampir separuh masyarakat mengatakan peringatan kesehatan di bungkus rokok tidak terbukti, sedangkan 26 persen lainnya berpendapat tidak memotivasi dan seperempatnya tidak peduli lagi dan terlanjur ketagihan.

Padahal peringatan kesehatan di bungkus rokok merupakan satu-satunya sarana edukasi yang efektif dan murah dapat menjangkau masyarakat luas.

Studi di berbagai negara membuktikan, bahwa peringatan kesehatan dalam bentuk gambar bisa meningkatkan kesehatan masyarakat tentang hubungan merokok dengan dampak kesehatan yang bisa mengubah perilaku merokok.

Empat negara Asean yang telah memiliki Undang-Undang(UU) tentang peringatan kesehatan berbentuk gambar di bungkus rokok antara lain Malaysia dan Brunai.

Sementara rokok produksi Indonesia yang diekspor ke negara-negara tersebut, mengikuti aturan mencantumkan gambar sebagai peringatan kesehatan di bungkusnya.

Masyarakat Indoneisa mempunyai hak yang sama dengan masyarakat di negara lain atas informasi yang jelas dan benar tentang bahaya rokok tersebut.

Menurut catatan jumlah perokok di Indonesia saat ini sekitar 60 juta orang atau nomor tiga terbesar di dunia. Prevalensi merokok cendrung meningkat dari tahun ke tahun.

Dua dari tiga laki-laki adalah perokok aktif sekitar tahun 2001, rokok diperkirakan menyebabkan berbagai penyakit dan kematian 427.948 orang per tahun atau 1.172 orang  per hari.

Rokok menyebabkan berbagai penyakit dan kematian dini, separoh kematian akibat rokok berada pada usia produktif,, sehingga jumlah penderita kanker paru di Rumah Sakit Umum Persahabatan(RSUP) menunjukkan peningkatan drastis selama empat tahun terakhir periode 2003-2007, kata Widyastuti ahli kesehatan masyarakat itu.

Ahli paru Dr Prasenohadi PhD,SpP mengatakan, kecenderungan umur mulai merokok di Indonesia menjadi semakin muda dari rata-rata 19 tahun pada tahun 1995 menjadi rata-rata usia 17 tahun di tahun 2004.

Akibatnya usia penderita kanker dan paru juga cenderung makin muda, demikian juga pengaruh asap rokok terhadap ibu hamil sangat membahayakan generasi yang akan dilahirkan, katanya dalam diskusi interaktif pengakuan korban asap rokok di Hotel Kemang Jakarta.

Ahli Obstetrik dan Ginekologi Prof DR FA Moeloek Sp OG, mengatakan anak yang dilahirkan dari ibu hamil yang selalu menghirup asap rokok, berpengaruh besar pada otak dan IQ menjadi rendah.

Ahli jantung RS Harapan Kita Prof Dr Budi Setyanto Sp.JP mengatakan,asap rokok bertanggung jawab pada penyakit jantung, sedangkan peringatan kesehatan yang ada sekarang belum memotivasi masyarakat untuk menghindari rokok.

“Kita bersama-sama menyatukan tekad untuk menekan jumlah korban nikotin rokok yang makin membahayakan generasi bangsa,” katanya (Kompas).